Monday, December 21, 2009


Thursday, December 10, 2009





Canon EOS 500D... Kapan ya punya kamera seperti ini... ngimpi doank kali ya... hahahaha..
oh Canon EOS 500D.. luph u pull dah..


hahahaha....

Tuesday, December 8, 2009

Ada ga yang tertarik belajar Linux Ubuntu Server???

Kalau mau nyoba ni aku ada ebooknya.. baru dapat kemarin.. besarnya cuma 8 MB.. sedot aja gan.. kalau udah lancar jangan lupa sharing ya.. aku males bacanya.. bahasa inggris soalnya..

hahahaha...

download di sini...

Sering kali saat kita ingin mengetahui apakah "bandwidth" yang kita terima saat berlangganan internet sudah sesuai dengan yang di janjikan oleh pihak provider. Saya ingin sedikit sharing tentang cara "memonitor" secara optimal "bandwidth" internet yang kita terima.

1.  Gunakan software/ tools untuk "bandwidth" monitoring seperti :
  • NetMeter (Application for Windows)
  • "BandwidthMonitor (Application for Windows)
  • Du-Meter (Application for Windows)
   Semua software ini bisa didownload di server lokal IDWS (indowebster)

2. Setelah melakukan proses instalasi dan tools siap digunakan, maka lakukan proses download file dari internet. Dalam proses ini, lakukanlah secara pararel (atau lebih dari satu download) untuk memudahkan hal ini saya sarankan untuk menggunakan software atau tools Internet download manager. Karena dengan tools ini memudahkan kita untuk melakukan proses download sampai lebih dari 20 file secara bersamaan.

3. Lakukan proses ini sampai terlihat di Tools "bandwidthmonitoring mencapai batas quota berlangganan, misalnya jika kita berlangganan 1 Mbps 1:1, maka statistik atau grafik seharusnya mencapai batas 1 Mbps. Jika belum mencapai, maka lakukan proses download lagi.

Setelah melakukan serangkaian test ini maka kita dapat mengetahui apakah layanan yang kita terima sudah sesuai dengan perjanjian dari provider atau tidak. Demikian saya ketahui tentang cara atau tips efektif dalam melakukan proses "monitoring" "bandwidth". Semoga berguna bagi rekan semua.

Masih seperti postinganku sebelumnya.. sekarang "tutorial" "mikrotik" dalam bentuk "Video". Jadi lebih enak nih "belajar" "mikrotik" nya.


Monggo... bisa di download di sini

Seperti temen-temen, aku juga termasuk newbie dalam urusan "mikrotik".. jadi kalau temen-temen bingung saat "belajar" "mikrotik" dan harus mulai dari mana ini aku ada beberapa "tutorial" "mikrotik". Lumayanlah buat belajar..


Kalau berminat temen-temen bisa di download di sini, sini, sini, sini, sini dan di sini

Telkom mulai menyiapkan beberapa strategi untuk menyongsong persaingan di 2010 mendatang demi mempertahankan dominasinya di pasar fixed wireless access (FWA) yang diusungnya melalui layanan telepon Flexi.

"Strategi itu antara lain program bundling handset, tarif telepon kompetitif dan tarif data murah, pemasaran bersama dengan anak perusahaan, serta memperkaya layanan nilai tambah dalam bentuk konten," ujar VP Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, kepada detikINET, Selasa (8/12/2009).

Flexi sendiri, menurut dia, hingga November 2009 telah memiliki pelanggan telepon nirkabel area terbatas dengan jumlah berkisar 15,5 juta atau tumbuh lebih dari 60% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Di tengah persaingan yang cukup ketat, Flexi terus memperlihatkan pertumbuhan yang cukup berarti," kata Eddy. "Melihat pertumbuhan Flexi yang cukup mengesankan, kami tetap akan fokus membesarkan Flexi," lanjut dia.

Telkom yang memiliki jumlah Base Transceiver Station (BTS) sebanyak 5.060 titik untuk menyelenggarakan Flexi di seluruh Indonesia, saat ini memang masih merupakan operator FWA berbasis CDMA terbesar dengan jumlah pelanggan mencapai 15,5 juta.

Pesaing terdekatnya hanya Bakrie Telecom yang memiliki sekitar 10 juta pelanggan Esia. Sementara dua operator FWA lainnya, Indosat StarOne dan Mobile-8 Hepi, jika digabung saja jumlahnya baru berkisar satu juta pelanggan.

Meski demikian, Telkom nampaknya tak mau lengah dan mencoba untuk curi start. Salah satu strategi yang sejatinya akan diusung tahun depan ternyata ada yang sudah mulai digelar Flexi, yakni melalui program panggilan hemat "Bulan C'rita Flexi" yang diberlakukan mulai Desember 2009 hingga Februari 2010.

Melalui program tanpa syarat ini, pelanggan Flexi bisa melakukan panggilan satu jaringan ke sesama Flexi dengan tarif Rp 300 tanpa batas mulai pukul 23.00 hingga 09.00 WIB. Namun, pembicaraan untuk enam menit pertama tetap dikenakan tarif normal Rp 49 per menit.

Tak lama setelah IMO merilis ponsel merek lokal dengan sistim operasi (OS) berbasis Google Android, kini distributor merek lokal lain mulai mengikuti jejaknya. Salah satunya adalah ponsel dengan merek Taxco.

"Kami melihat tren Android kian digemari masyarakat," ujar Presiden Direktur Taxco, Djong Suriandi, di sela kerjasama Taxco dengan operator seluler 3, di MU Cafe, Jakarta, Selasa (8/12/2009).

"Di Amerika Serikat sana, misalnya, hampir semua ponsel sudah mulai menggunakan Android. Saya rasa tren itu akan menular ke Indonesia. Itu yang mendasari kami untuk mengeluarkan ponsel Android," jelasnya lebih lanjut.

Taxco sendiri baru akan merilis ponsel berbasis OS besutan Google itu pada kuartal pertama 2010 mendatang. Menurut Djong, Taxco akan mengeluarkan minimal dua unit dalam tahap awal perkenalannya.

Selain memasarkan perangkat, Taxco katanya juga akan memperkuat ponsel Android tersebut dengan sejumlah aplikasi yang dipasok melalui toko online, seperti yang dilakukan oleh IMO sebelumnya bersama Indosat Mega Media (IM2).

"SDK (software development kit) Android sudah kita dapatkan dari Google, saat ini aplikasinya akan dikembangkan dari China. Termasuk toko aplikasi online-nya," jelas Djong.

Meski hanya akan mengandalkan aplikasi sendiri, namun Taxco tak menutup kemungkinan nantinya untuk membuka akses unduh aplikasi langsung ke Android Market. Padahal, Indonesia sendiri belum mendapatkan lisensi dari Google untuk mengakses langsung ke Android Market.

"Perlahan dan bertahap kami yakin Google akan memberikan lisensinya ke Indonesia. Apalagi kalau jumlah penggunanya akan semakin banyak," tandas dia.

Microsoft telah menggandeng tiga rekanan lokal untuk urusan bisnis Cloud Computing. Apa alasan Microsoft yang tidak menggandeng vendor papan atas global, namun justru melirik perusahaan lokal?

Ketiga rekanan itu diumumkan Microsoft dalam temu media di Hotel ShangriLa, Jakarta, Selasa (8/12/2009). Ketiganya adalah Astra Graphia Information, Infinys System Indonesia dan Green View Cloud Services. 

Apa alasan Microsoft menggandeng partner lokal tersebut? "Alasan kita berfokus kepada partner hostedlokal, pertama karena bisa memberikan kustomisasi kepada pelanggan. Selain itu ini juga merupakan aturan pemerintah," ujar Adrian Anwar, Services Business Group Lead, Microsoft Indonesia. 

Adrian mengatakan tiga partner lokal itu akan membantu melakukan penetrasi dari tingkat usaha kecil dan menengah (UKM) hingga kelas perusahaan besar alias Enterprise. Kemudian, Adrian menambahkan, rekanan itu diharapkan bisa membangun 'ekonomi berbasis piranti lunak' di Indonesia. 

Berikut sekilas profil tiga rekanan lokal Microsoft: 
  • PT Astra Graphia Information: Penyedia jasa ICT terkemuka di Indonesia ini baru saja meluncurkan bisnis barunya di bidang Cloud Computing. Salah satu solusi yang dipasarkan adalah Enterprise Messaging dan Collaboration dengan dua layanan utama berupa Microsoft Exchange Hosting dan Microsoft Unified Communication, bekerja sama dengan Microsoft Indonesia.
  • PT Infinys System Indonesia: Perusahaan ini memiliki bisnis bidang ISP, System Integrator, Bar Coding, serta Smart Card, In-building cellular dan pengembangan aplikasi web. Kepada detikINET mereka mendemokan OCS (Office Communication Server). Konon kabarnya, mereka akan menggandeng salah satu operator telekomunikasi di Indonesia untuk meluncurkan layanan ala BlackBerry Enterprise Server (BES) dengan harga yang lebih murah. Siapa itu?
  • Green View Cloud Service: Perusahaan ini mengklaim diri sebagai layanan satu atap 'server di awan'. Isinya: internet/VPN bandwith, DR/BC, OS, aplikasi, serta SDM terintegerasi dan didukung sistem keamanan data. Green view mengaku melihat potensi bisnis Cloud services untuk tahun 2010 bisa mencapai Rp. 100 M lintas sektoral.